Selasa, 05 Juni 2018

HUBUNGAN BUDAYA DAN AGAMA ISLAM PADA TRADISI APITAN di DESA SERANGAN, BONANG, DEMAK


LAPORAN MINI RISET
HUBUNGAN BUDAYA DAN AGAMA ISLAM PADA TRADISI APITAN di DESA SERANGAN, BONANG, DEMAK
Disusun untuk  Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metodologi Studi Islam
Dosen Pengampu: Ahmad Muzakkil Anam, M.Pd.I.
Hasil gambar untuk iain surakarta
Disusun Oleh:
Faridhatun Nikmah                163151033


TADRIS BAHASA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI SURAKARTA
SURAKARTA
2018


BAB I
PENDAHULUAN
Pada dasarnya budaya adalah suatu adat atau kebiasaan masyarakat. Budaya secara bahasa berasal dari kata “budhhayah“ diartikan sebagai akal dan budi pekerti, sementara makna dari kebudayaan adalah rasa, karsa, dan cita yang ada dalam kehidupan masyarakat, budaya ini menjadi cara pandang suatu kelompok yang terus dikembangkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar kebudayaan yang dimiliki desa tidak hilang (Hemawan, 2014).
Tradisi adalah adat kebiasaan yang dilakukan secara turun temurin yang diwariskan oleh nenek moyang. Agama Islam adalah suatu agama yang disebarkan oleh walisongo melalui dakwah. Walisongo menyebarkan jalan dakwahnya melalui wayang. Wayang adalah alat yang digunakan sebagai jalan untuk menyebarkan agama Islam. Namun, tradisi dan adat kebiasaan yang ada di masyarakat tidak bisa dihilangkan. (Sosial, 2017).
Dalam hal ini tradisi yang terdapat di Desa Serangan terdapat adanya tradisi Apitan. Tradisi Apitan adalah suatu adat kebiasaan yang dilakukan masyarakat setiap satu tahun sekali yang bertepatan pada bulan Apit atau Dzul Qodha. Tradisi Apitan juga menyelenggarakan adanya pertunjukan wayang kulit selama satu malam dimulai dari jam Sembilan pagi sampai jam Empat pagi.
Tujuan dari tradisi Apitan di Desa Serangan yang pertama untuk mendoakan arwah leluhur dan nenek moyang. Kedua untuk menyedekahi bumi. Ketiga  untuk menghindari bala’ atau cobaan karena di bulan Apit dikatakan sebagai bulan keramat. Keempat untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama masyarakat. Kelima, sebagai bentuk rasa syukur masyarakat terhadap rizki yang dan hasil panen yang dimiliki. Keenam, untuk mempererat tali silaturahmi antar masyarakat karena dengan acara tersebut menjadikan masyarakat lebih saling solid dan bekerja sama satu sama lain.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Proses Pelaksanaan Tradisi Apitan
Masyarakat Dusun Krajan Desa Serangan, Bonang, Demak masih menjunjung tinggi adanya tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun. Masyarakat Desa Serangan adalah masyarakat yang menganut agama Islam, dalam desa tersebut tidak ada yang menganut agama selain Islam. Oleh karena itu, mereka masih menjunjung tinggi adanya budaya yang diwariskan nenek moyang. Salah satu  budaya yang terdapat di Desa Serangan adalah tradisi Apitan. Apitan adalah perpaduan antara Islam dan Jawa. Tradisi ini sudah ada sejak dahulu.

Apitan adalah salah satu bentuk tradisi yang terdapat di Desa Serangan, tradisi ini dilaksanakan pada bulan Apit atau Dzul Qodha. Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun satu kali. Adanya tradisi ini untuk mendoakan arwah leluhur dan juga sebagai sedekah bumi. Manfaat dari tradisi ini salah satunya untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama dan juga sebagai pelestarian budaya yang ada di Desa Serangan Bonang Demak.

Tujuan dari tradisi apitan di Desa Serangan yang pertama untuk mendoakan arwah leluhur dan nenek moyang. Kedua untuk menyedekahi bumi agar tetap selalu tentram atau gemah ripah loh jinawi. Ketiga  untuk menghindari bala’ atau cobaan karena di bulan Apit dikatakan sebagai bulan keramat. Keempat untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama masyarakat. dan kelima untuk melestarikan budaya dan tradisi. (Sholeh, wawancara 17 April 2017).
Prosesi pelaksanaan Tradisi Apitan di Dusun Krajan Desa Serangan diawali dari
1.      Pembukaan dari kepala desa dan aparat jajarannya,
2.      Mulai jam 09.00-Selesai dimulai acara pertunjukan wayang yang diiringi oleh seorang dalang,
3.      Jam 15.00 masyarakat berdatangan ke Balai Desa dengan membawa  nasi yang isinya sayuran, telur, dan ayam.
4.      Jam 15.30 dimulai acara doa bersama dan tahlil yang dipimpin oleh tokoh agama atau kyai.
5.      Acara berikutnya adalah menikamati makanan bersama yang dibawa oleh masyarakat.
6.      Setelah itu ada sambutan dari kepala sekolah, dan sebagainya.
7.      Jam 19.00 dimulai pertunjukan wayang kembali sampai jam 04.30
8.      penutup

Dalam acara apitan memasukkan adanya budaya Islam yang dibawa oleh Sunan Kalijaga yaitu wayang. Wayang adalah budaya yang dilestarikan oleh masyarakat Desa Serangan setiap bulan Dzul Qodha berkenaan dengan adanya tradisi Apitan. Wayang sebagai alat utama sebagai pengiring tradisi Apitan. Pertunjukkan wayang dilaksanakan di Balai desa dimulai dari jam 09.00 - 04.30, pertunjukkan wayang dilakukan selama satu hari penuh. 

Tradisi Apitan adalah tradisi yang ditunggu-tunggu masyarakat. Karena tradisi Apitan tidak hanya dipertunjukkan seni wayang saja, melainkan juga ada banyak orang yang berjualan mulai dari makanan, permainan, asesoris, dan pakaian sehingga masyarakat menunggu acara Apitan, tidak hanya pertujukan wayang saja,tetapi juga mempererat tali silaturahmi antar masyarakat. Dari semua ritual Apitan tersebut yang paling dinantikan warga masyarakat adalah acara tahlilan karena banyak manfaat dari tahlilan tersebut. Menurut Siti Khalimah dalam tulisanya di sebutkan bahwa tujuan tahlilan adalah :
1.      Menyambung dan mempererat kembali silaturrahmi yang pernah dan telah tersambungkan oleh almarhum atau almarhumah,
2.      Memintakan maaf atas kesalahan-kesalahan almarhum atau almarhumah terhadap tetangga, kerabat, dan handai taulan,
3.      Mengawali penyelesaian hak-hak dan kewajiban almarhum terhadap orang-orang yang masih hidup,
4.      Melakukan amal shalih dan mengajak beramal shalih dengan bersilaturahmi, mengukuhkan keimanan, membaca surat-surat dan ayat-ayat Al-Qur’an, berzikir, dan bershadaqah,
5.      Berdoa untuk almarhum dari nenek moyang dan leluhur sekaligus membaca doa tahlilan, agar dosa-dosanya diampuni oleh Allah.

Persepsi masyarakat terhadap tradisi Apitan tidak lepas dari hal gaib. “Warga percaya dengan adanya tradisi Apitan. Tradisi ini harus dilakukan setiap tahun karena masyarakat percaya bahwa tradisi ini tidak dilakukan maka desa itu akan tidak tentram. Oleh karena, itu tradisi apitan harus dilaksanakanmasyarakat setiap tahun sekali yang bertepatan pada bulan Apit atau Dzul Qadha.  Menurut (Siti, Wawancara 19 Mei 2018) mengatakan bahwa tradisi Apitan adalah tradisi yang sakral dan harus dilaksanakan, jika tidak melaksanakan maka desa Serangan tidak akan tentram bahkan akan datang musibah. Dapat disimpulkan bahwa tradisi Apitan harus dilaksanakan setiap tahun sekali yang bertepatan pada bulan Apit untuk menjahui bencana sehingga desa Serangan akan merasa aman, nyaman, dan tentram.

Dana yang digunakan masyarakat dalam tradisi Apitan itu uangnya dari masyarakat. masyarakat membayar uang sebesar lima ribu dan sisanya ditanggung pihak pemerintah desa sehingga dana dalam pertunjukkan wayang sudah tidak dijadikan masalah lagi. Masyarakat sudah tinggal menikmati pertunjukan wayang selama satu hari full.

B.     Bentuk Ritual Tradisi Apitan
Berdasarkan hasil penelitian di Desa Serangan ritual yang dilaksanakan dalam ritual tradisi Apitan antara lain:
1.      Penyembelihan kambing yang dilakukan oleh anggota kelurahan,
2.      Bersesaji yang biasanya dilakukan oleh dalang ketika ruwatan. Banyak sekali perlengkapan yang digunakan untuk membuat sesaji misalnya saja, kembang telon, mule metri dan lain-lain,
3.      Berdoa bersama di Balai Desa,
4.      Makan bersama yang dilakukan oleh masyarakat desa Serangan baik orang tua, remaja, anak, dan dewasa. Semua mengikuti kegiatan Apitan, dan
5.      Pertunjukan  Wayang Kulit selama semalaman yang bertujuan untuk keselamatan masyarakat Kabupaten Demak agar terhindar dari bahaya dan berdoa agar sawah yang mereka rawat bisa menghasilkan panen yang melimpah. Biasanya tema wayang kulit tergantung dari permintaan awal, tetapi kebanyakan menceritakan tentang pertanian.

Menurut (Artik, 2012) Wayang adalah sebuah seni pertunjukan khas Indonesia yang sudah sangat populer baik itu di dalam atau luar pulau Jawa. Karya seni ini sudah dikenal masyarakat sejak zaman pra sejarah. Kemudian pada saat masuknya pengaruh Hindu dan Budha, cerita dalam wayang mulai mengadopsi kitab Mahabharata dan Ramayana yang berasal dari India. Lalu pada masa pengaruh Islam, wayang oleh para wali digunakan sebagai media dakwah yang tentunya dengan menyisipkan nilai-nilai Islam. Pertunjukkan Mahabharata dan Ramayana yang berasal dari India. Lalu pada masa pengaruh Islam, wayang oleh para wali digunakan sebagai media dakwah yang tentunya dengan menyisipkan nilai-nilai Islam.

Wayangan merupakan suatu akulturasi budaya yang sejak zaman kewalian (abad 14 oleh para wali) dijadikan sebagai hiburan dan alat dakwah. Selain itu, juga mampu menyampaikan pesan etis yang bermanfaat berupa pendidikan moral, keutamaan hidup pribadi dan masyarakat.  

C.    Manfaat Tradisi Apitan
Masyarakat secara umum merasa bahwa tradisi Apitan memiliki banyak manfaat. Pertama, melestarikan budaya yang ada di Desa Serangan Bonang Demak sebagai kegiatan yang turun temurun ada sejak adanya nenek moyang. Kedua, sebagai sedekah bumi sebagai rasa syukur masyarakat terhadap rizki yang dimiliki serta melimpahnya hasil panen yang dimiliki. Ketiga, untuk mempererat tali silaturahmi antar masyarakat karena dengan acara tersebut menjadikan masyarakat lebih saling solid dan bekerja sama satu sama lain. Keempat, sebagai sarana hiburan karena acara Apitan juga menyelenggarakan wayang kulit sebagai pertunjukan untuk menghibur masyarakat. Kelima, sebagai jalan untuk mendapatkan rizki bagi orang yang berjualan di acara tersebut. Keenam, untuk mendoakan arwah nenek moyang yang telah meninggal. Dan ketujuh, untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan acara doa tahlil bersama.  

BAB III
KESIMPULAN
A.    Simpulan
Tradisi Apitan adalah tradisi yang diselenggarakan masyarakat Desa Serangan yang bertepatan pada bulan Apit. Tradisi ini dilakukan secara turun temurun setiap satu tahun sekali. Tradisi yang dibawa oleh nenek moyang yang dilestarikan masyarakat sampai saat inipun tradisi ini masih tetap ada.

Tujuan dari tradisi apitan di Desa Serangan yang pertama untuk mendoakan arwah leluhur pada nenek moyang yang sudah meninggal. Kedua untuk menyedekahi bumi agar tetap selalu tentram atau gemah ripah loh jinawi. Ketiga mempererat tali silaturahmi antar sesama, keempat melestarikan tradisi yang diberikan oleh nenek moyang.
B.     Saran
Setelah mempelajari materi terkait tradisi Apitan di Desa Serangan Bonang Demak. Diharapkan pembaca lebih mengetahui materi terkait tradisi Apitan sehingga materi ini dapat dijadikan referensi makalah.

DAFTAR PUSTAKA
Artik. (2012). Peran Wayang Kulit Dalam Penguatan Kebudayaan Nasional. Jurnal Ilmiah PPKN IKip Veteran Semarang, (8110012), 1–10.
Hemawan, J. (2014). Pengaruh Agama Islam Terhadap Kebudayaan Dan Tradisi Jawa Di Kecamatan Singorojo Kabupaten Kendal. Dimensi, 2(1), 44–57. Retrieved from /citations?view_op=view_citation&continue=/scholar?hl=en&as_sdt=0,5&scilib=1&scioq=kasta&citilm=1&citation_for_view=quW-A7kAAAAJ:O3NaXMp0MMsC&hl=en&oi=p
Sosial, I. (2017). Persimpangan Antara Agama dan Budaya. Intelektualita, 6(2), 229–242.


Kebijakan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan Pelayaran Pancasila Kartasura


MAKALAH
Kebijakan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan Pelayaran Pancasila Kartasura
Disusun untuk  Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Pendidikan
Dosen Pengampu: Endang Rahmawati, S.Pd., M.Pd

Hasil gambar untuk iain surakarta
Disusun Oleh:
Faridhatun Nikmah                       163151033

TADRIS BAHASA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI SURAKARTA
2018

BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan sangat mempengaruhi diri seseorang. pendidikan merupakan suatu proses  pengubahan sikap dan perilaku anak  guna mendewasakan melalui upaya pengajaran. Pendidikan juga bisa diartikan suatu lembaga yang di dalamnya terdapat pendidik dan peserta didik untuk memperoleh pengetahuan yang lebih luas dan harus melalui proses yang lebih lama. Pengetahuan ialah segala sesuatu yang diperoleh dari diri seseorang melalui suatu proses yang harus ditempuh maupun dari pengalaman. Pendidikan dijadikan sebagai faktor utama untuk mempengaruhi anak. Pendidikan pertama dari anak adalah orang tua, kedua adalah guru. Oleh karena itu keduanya sangat mempengaruhi pada terbentuknya anak.
Negara dikatakan maju  jika sistem pendidikan yang berada di Negara tersebut bisa maju. pendidikan sangat berpengaruh besar pada kemajuan Negara. Negara dijadikan sebagai tolok ukur pertama pada sistem pendidikan. Adanya pendidikan untuk menjawab tantangan zaman. Oleh karena itu, semakin baik kualitas pendidikan yang diselenggarakan lembaga pemerintahan di suatu negara, maka akan semakin baik tingkat kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya. Dengan demikian proses peningkatan mutu pendidikan merupakan langkah pertama untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Pendidikan adalah suatu uasaha dan rencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan.
Pelaksanaan pendidikan setidaknya mampu mencapai tujuan pendidikan. Memang tidak mudah untuk mencapai semua tujuan pendidikan, akan tetapi jika disertai dengan niat dan usaha yang maksimal oleh lembaga formal maupun nonformal diharapkan akan terwujud output pendidikan yang diinginkan. Dalam hal ini pemerintah mengeluarkan perpu nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. Dapat diartikan bahwa visi pendidikan nasional adalah mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Pasca reformasi, paradigma otomi daerah menjadi paradigma dasar penentuan segala sendi aturan Negara. Sejalan dengan otonomui daerah itu, pemerintah pun bertekad bulat untuk melaksanakan desentralisasi pendidikan yang bertumpu pada pemberdayaan sekolah di semua jenjang pendidikan.
Manajemen Pendidikan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)  adalah manajemen pendidikan yang lahir sebelum Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Tujuan Manajemen Pendidikan Mutu Berbasis Sekolah adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan dari output dan input. Konsep MPMBS terkandung dalam UUD 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah yang awalnya sentralisasi diubah menjadi desentralisasi. Dalam hal ini model MPMBS adalah menyerahkan seluruhnya pada sekolah. Jadi sekolah tersebut diatur sepenuhnya pada sekolahan.









BAB II
PEMBAHASAN
A.    Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
Menurut (Hamzah, 2013: 153) MPMBS merupakan alternatif baru dari sistem pengelolaan pendidikan yang lebih menempatkan kemandirian dan kekreatifan sekolah. Konsep ini mengacu pada teori effective school yang lebih memfokuskan diri pada perbaikan proses pendidikan. Beberapa indikator yang menunjukkan karakter  dari konsep manajemen ini antara lain lingkungan sekolah yang aman dan tertib, misi dan target mutu yang ingin dicapai, dan sekolah yang memiliki kepemimpinan yang kuat, adanya harapan yang tinggi dari personal sekolah (kepala sekolah, guru, dan siswa) untuk berprestasi. 

Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah memberikan sistem manajemen otonomi lebih besar kepada kepala sekolah, untuk mendorong partisipasi  secara langsung terhadap warga sekolah, guru, murid, kepala Sekolah, karyawan, orang tua murid, Tokoh Masyarakat, dan sebaginya untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarka Kebijakan pendidikan Nasional serta Peraturan Perundangan yang berlaku.
Adanya manajemen ini menjadikan sekolah lebih mandiri dalam mewujudkan visi dan misi yang sudah dibuat oleh pihak sekolah. Kepala sekolah dijadikan koordinator pada sekolahan. Karena kepala sekolah yang tahu segalanya tentang sekolah, jadi kepala sekolah dapat dijadikan sebagai tolok ukur sekolah. Oleh karena itu, kepala sekolah harus mampu memanajemen sekolahan agar mutu peningkatan sekolah tetap selalu ada.

Konsep MPMBS ada Sejak diberlakukannya UU no 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah dan UU no 25 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah,  dan UU no 32 dan 33 tahun 2004 yang berawal dari sistem sentralisasi menjadi desentralisasi. Dan sekolah diberikan kewenangan sepenuhnya untuk mengatur dan melaksanakan pendidikan sesuai dengan visi, misi dan tujuan sekolah yang mengacu undang-undang.
Disebutkan pula dalam UU sisdiknas tahun 2003 pasal 50 ayat 5 yang berbunyi “pemerintah kabupaten/kota mengelola pendidikan dasar dan menengah, serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal”. Dan juga disebutkan dalam pasal 51 ayat 1 yang berbunyi “pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan menenga, dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/sekolah”
Hasil penelitian ditemukan MPMBS yang berada di SMK Pelayaran memiliki dua dinas, yaitu dinas pendidikan dan dinas perhubungan laut. Semua SMK Pelayaran juga memiliki dua dinas. Sistem pendidikan SMK Pelayaran Kartasura ditempuh selama 4 tahun, 3 tahun (6 semester) terbagi atas 25% teori dan 75% praktik di laboratorium dan dunia industry dengan Aplikasi Praktik Lapangan (PKL) dan Praktik Laut (Prala) serta melaksanakan ujian keahlian pelaut. Dan selama satu tahun dipakai untuk untuk Pasca Praktik Laut (Pasca Prala). Setelah keduanya sudah selesai dilalui maka akan mendapatkan dua ijazah. Ijazah pertama adalah ijazah dari dinas pendidikan yang tulisannya menggunakan bahasa Indonesia sedangkan yang kedua adalah ijazah dari perhubungan laut yang menggunakan bahasa Inggris yang digunakan sebagai syarat melamar pekerjaan di kapal.
Visi dan Misi SMK Pelayaran Pancasila Kartasura adalah:
1.      Visi yang terdapat di SMK Pelayaran Pancasila adalah menghasilkan pelaut yang profesional berstandar Nasional dan Internasional.
2.      Misinya terbagi menjadi empat, yaitu
a.       Meningkatkan mutu penyelenggaraan diklat dengan mengacu 8 standar nasional mutu kepelautan Indonesia,
b.      Meningkatkan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan sehingga memenuhi standar,
c.       Membangun SDM berkualitas sebagai perwira pelayaran niaga tingkat IV, dan
d.      Mengembangkan dan mengoptimalkan sarana dan prasarana pembelajaran sesuai standar nasional pendidikan dan standar mutu kepelautan Indonesia.

B.     Tujuan dan Sasaran MPMBS
Pengembangan konsep MPMBS didesain untuk meningkatkan kemampuan sekolah dalam mengelola perubahan pendidikan kaitannya dengan tujuan keseluruhan, kebijakan, strategi perencanaan, inisiatif kurikulum yang telah ditentukan oleh pemerintah dan otoritas pendidikan. Pendidikan ini menuntut adanya perubahan sikap dan tingkah laku seluruh komponen sekolah; kepala sekolah, guru dan staf administrasi termasuk orang tua dan masyarakat (Hamzah, 2013: 154).
Tujuan dari MPMBS adalah memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada sekolah, pemberian fleksibilitas yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumber daya sekolah dan mendorong partisipasi warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan (Ngadimun, 2012: 62).
Dapat disimpulkan bahwa program MPMBS bertujuan untuk memandirian atau memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan, keluwesan dan sumberdaya untuk meningkatkan mutu kinerja sekolah dan pendidikan terutama meningkatkan hasil belajar siswa.
Penjaminan mutu satuan pendidikan atau sekolah merupakan proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan satuan pendidikan atau sekolah secara konsisten dan berkelanjutan sehingga seluruh pemakailulusn (stakeholders) memperoleh kepuasan. Berkenaan dengan konsep penjaminan mutu di atas, maka satuan pendidikan harus mampu melaksanakan dan mengendalikan mutu baik untuk setiap satuan butir mutu maupun untuk seluruh kegiatan yang diselenggarakan (Rusman, 2012: 559-560).
Hasil penelitian di Sekolah Menengah Kejuruan  Pelayaran Pancasila Kartasura dalam peningkatan mutu pendidikan memiliki tujuan sebagai berikut:
1.      Mempersiapkan peserta didik agar menjadi manusia produktif dan profesional untuk bekerja di dunia usaha dan dunia industry, sesuai dengan kompetensi yang dimiliki,
2.      Membekali peserta didik berdisiplin tinggi, ulet, dan gigih dalam berkompetensi, beradaptasi di lingkungan kerja dan mengembangkan sikap profesional dalam bidang keahlian yang dimilikinya, dan
3.      Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni agar mampu mengembangkan diri di kemudian hari baik secara mandiri maupun melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Dalam tercapainya MPMBS harus tepat sesuai dengan sasaran (peserta didik). Dalam penilitian di Sekolah Menengah Kejuruan sasaran yang harus dicapai sebagai berikut:
1.      Siswa dapat secara profesional menguasai teknologi di bidang kemaritiman,
2.      Siswa mampu berkompetensi dan mengembangkan potensinya secara maksimal,
3.      Sistem pendidikan dan latihan yang berstandar Internasional,
4.      Fasilitas, sarana dan prasarana sesuai dengan standar            QSS dan memadai.
5.      Pasar tenaga kerja pelayaran / niaga yang membutuhkan tenaga-tenaga kerja baru.

C.     Pokok-pokok Penyelenggaraan Pendidikan
Dalam sistem pendidikan sekolah pasti memiliki adanya upaya untuk menyelenggarakan rencana sekolah berupa visi dan misi yang diciptakan sekolah. Sekolah memiliki kewajiban penuh untuk menyelenggarakan program sekolah. Untuk itu sekolah harus memiliki sistem untuk menyelenggarakan program pada sekolah. Agar peserta didik dapat output yang baik dan keluar dengan prospek kerja yang sesuai dengan keinginannya. Sekolah dikatakan berhasil dan sukses, jika mampu menghasilkan lulusan yang baik.
Hasil penelitian di SMK Pelayaran menurut terdapat adanya sistem untuk menyelenggarakan pendidikan, antara lain:
1.      SMK Pelayaran Pancasila Kartasura, mmbuka 2 program keahlian sebagai berikut:
a.       Nautika Kapal Niaga
Program keahlian ini memiliki pengetahuan dan ketrampilan di bidang Navigasi, penanganan muatan dan pengontrolan pengoperasian kapal dan merawat orang di kapal pada tingkat operasional.
Prospek lulusannya terbagi menjadi dua yaitu di laut sebagai tenaga Deck Officer (Nahkoda dan Mualim) di kapal Niaga pada daerah pelayaran Interinsuler / Internasional sedangkan di darat bekerja di Bea Cukai, Adpel, Kementerian Perhubungan, Perusahaan Pelayaran, dan TNI / Polri.
b.      Teknika Kapal Niaga
Program keahlian ini mempunyai pengetahuan dan ketrampilan di bidang permesinan kapal, kelistrikan kapal, elektronika dan sistem control serta pengontrolan kapal dan merawat orang di kapal pada tingkat operasional.
Prospek lulusan terbagi menjadi dua yaitu di laut sebagai Engine Officer (Kepala kamar Mesin dan Masinis) din kapal Niaga pada daerah pelayaran Interinsuler / Internasional sedangkan di darat bekerja sebagai tenaga mekanik pabrik, hotel, galangan kapal, dan TNI / Polri).
2.      Sistem Pendidikan
SMK Pelayaran Kartasura ditempuh selama tiga tahun terbagi atas 25% materi dan 75% Praktik di Laboratorium dan dunia industri dengan aplikasi PKL yaitu Praktik laut (Prala) dan ditambah 1 tahun lagi yaitu (Pasca Prala) yang diadakan setelah UN. Semua siswa wajib mengikuti praktik laut selama satu tahun.
3.      Tenaga Pengajar / Intruktur
Tenaga pengajar yang dimiliki SMK Pelayaran lebih mengutamakan kualitas dan profesional di bidangnya dengan kualifikasi ijazah ANT-I, ATT-1, ANT-1, ANT-II, dan ANT-III, ATT-III, Sarjana (S1), Pasca Sarjana (S2), dan TNI / Polri.
4.      Kurikulum
Kurikulum yang diterapkan di SMK Pelayaran Pancasila Kartasura adalah mengacu Kurikulum Nasional (2013), Internasional (IMO), dan Kurikulum Keahlian.





BAB III
PENUTUP
Dari ulasan yang dikemukakan di atas, Penulis menarik beberapa kesimpulan yaitu MPMBS yang terdapat di SMK Pelayaran memiliki dua instansi. Pertama, instansi dinas pendidikan dan kedua instansi perhubungan laut. Dan tidak semua anak bisa masuk ke SMK Pelayaran, hanya orang pilihan yang bisa masuk di SMK Pelayaran. Tingkat kedisiplinan di SMK Pelayaran sangat diutamakan. Program yang terdapat di SMK Pelayaran dibagi menjadi dua yaitu Nauntika Kapal Niaga prospek lulusannya dibagi menjadi dua tempat di laut sebagai tenaga Deck Officear (Nahkoda dan Mualim) di kapal Niaga pada daerah pelayaran Internasional sedangkan di darat bekerja di Bea Cukai, Adpel, Kementerian Perhubungan, Perusahaan Pelayaran, TNI, dan Polri. dan Teknika Kapal Niaga prospek kerjanya dibagi menjadi dua di laut bekerja sebagai Engine Officer (Kepala Kamar Mesin / Masinis) sedangkan di darat bekerja sebagai teknik mekanika pabrik, hotel, galangan kapal, TNI,  dan Polri. Tenaga pengajar di SMK Pelayaran juga lebih mementingkan kualitas profesional dalam pengajaran, tenaga pengajarannya dibagi menjadi dua, yaitu produktif dan nonproduktif. Guru produktif harus memiliki ijazah laut dan Training of Trainer (TOT) sedangkan guru nonproduktif harus memiliki ijazah MGMP. Sistem pendidikan terbagi atas 25% teori dan 75% praktik laut. Rata-rata lulusan SMK Pelayaran bekerja sebagai kapten kapal.








DAFTAR PUSTAKA
Hamzah, H. (2013). Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan  Berbasis Sekolah. HUNAFA: Jurnal Studia Islamika, 10(1), 151–175. Retrieved from http://jurnalhunafa.org/index.php/hunafa/article/view/23
Ngadimun. (2012). Kebijakan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah Studi Efektifitas Implementasi Kebijakan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah di Kota Banjarmasin. Administrasi Publik, 10(2), 60–70.
Rusman. (2012). No Titl. In Manajemen Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.


 










LAMPIRAN
A.    Lampiran Wawancara
Dilakukan dengan teknik wawancara dan narasumbernya adalah Ibu Sugiarni, S. Pd. I. beliau adalah salah satu guru yang berada di SMK Pelayaran. Beliau lulusan dari jurusan bahasa Inggris di IAIN Salatiga.
A: Apa visi dan misi dari SMK Pelayaran?
B: Visi dari SMK Pelayaran Pancasila adalah menghasilkan pelaut yang profesional berstandar Nasional dan Internasional. Sedangkan Misinya terbagi menjadi empat, yaitu:
a.       Meningkatkan mutu penyelenggaraan diklat dengan mengacu 8 standar nasional mutu kepelautan Indonesia,
b.      Meningkatkan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan sehingga memenuhi standar,
c.       Membangun SDM berkualitas sebagai perwira pelayaran niaga tingkat IV, dan
d.      Mengembangkan dan mengoptimalkan sarana dan prasarana pembelajaran sesuai standar nasional pendidikan dan standar mutu kepelautan Indonesia.
A: Bagaimana MPMBS di SMK Pelayaran Pancasila Kartasura?
B: MPMBS di SMK Pelayaran memiliki dua, yaitu dinas pendidikan dan dinas perhubungan laut. Pendidikan yang ditempuh di SMK Pelayaran selama empat tahun, Begitupun juga ujian yang dilaksanakan di SMK Pelayaran  memiliki dua ijazah. Ujiannya dua kali. Setelah ujian nasional ada dua ujian yang harus dipenuhi, yaitu  praktik laut (outbound) selama satu tahun. Biasanya disebut “Prala” Setelah praktik laut ada praktik lagi namanya “Pasca prala”. Ijazah yang didapatkan di SMK Pelayaran juga memiliki dua ujian yaitu ijazah dari dinas pendidikan yang berbrntuk bahasa Indonesia, sedangkan dari perhubungan laut yaitu ijazah Nasional atau profesi yang berbentuk bahasa Inggris. Ijazah yang berbentuk bahasa Inggris digunakan sebagai syarat melamar pekerjaan di kapal.
A: Berapa tahun pendidikan yang ditempuh di SMKPelayaran?
B: Pendidikan yang ditempuh di SMK Pelayaran selama empat tahun, tiga tahun pembelajaran kelas dan satu tahun praktik laut di kapal.
A: Apakah semua anak harus mengikuti praktik laut selama satu tahun?
B: Tidak semua mengikuti praktik laut, kecuali anak melaporkan alasan kepada guru yang bersangkutan. Karena di awal masuk anak sudah berjanji akan mengikuti praktik laut, sehingga saat guru ditanya oleh dinas perhubungan laut bisa menjelaskan alasan-alasan yang dilaporkan anak.
A: Apakah semua lulusan SMK Pelayaran bekerja di kapal?
B: Tidak semua lulusan bekerja di kapal. Tergantung dari individu dan keluarga yang bersangkutan, terkadang ada keluarga tidak mengizinkan anaknya bekerja di kapal melainkan ingin anaknya bekerja sebagai polri, polisi ataupun TNI. Ada 10 % persen seperti itu. Tapi SMK Pelayaran tidak boleh memaksakan keinginan anak  jika anak sudah memiliki keinginan untuk tidak ingin bekerja di laut  yang terpenting ia melaporkan kepada sekolahan dengan alasan yang jelas. Karena semua nama anak akan di kirim ke perhubungan laut. Dan guru melaporkan alasan anak.
A: Ada berapa akreditasi yang dimiliki di SMK Pelayaran?
B: Akreditasi yang terdapat di SMK Pelayaran terbagi menjadi dua yaitu akreditasi dan Proval. Akreditasi yang dikeluarkan oleh BAN. Proval adalah akreditasi yang mengeluarkan dinas perhubungan laut. Jika sekolah belum Proval maka tidak bisa menerima siswa.
A: Apakah SMK Pelayaran sudah memakai Kurikulum 13?
B: iya sudah memakai Kurikulum 13, tapi kelas X dan XI masih memakai KTSP.
A: Ada berapa jurusan di SMK Pelayaran?
B: Jurusan yang terdapat di SMK Pelayaran terbagi menjadi dua yaitu Teknika dan Nautika.
A: Apakah sudah banyak lulusan  SMK Pelayaran yang bekerja di kapal?
B: Sudah banyak lulusan dari SMK Pelayaran yang menjadi Kapten di luar negeri seperti Singapura, Malaysia, dan lainnya. Dulu nama sebelum nama SMK yaitu SPM, SKS, dan SMK.
A: bagaimana cara pendaftaran di SMK Pelayaran?
B: Pendaftaran SMK Pelayaran terdapat lima tahapan pertama tes seleksi akademik dengan mengisi 50 soal campuran yang terdiri dari Matematika, Bahasa Inggris, dan pengetahuan umum, kedua tes wawancara, ketiga tes jasmani, keempat tes kesehatan dari PHC / Rumah sakit pelabuhan Semarang (Mata, THT, Hepatitis), dan kelima tes psikologi, bakat, dan minat.
A: Bagaimana tingkat kedisiplinan yang diterapkan di SMK Pelayaran ?
B: Tingkat kedisiplinan yang diterapkan di SMK Pelayaran lebih diutamakan.
A: Bagaimana hubungan sekolah dengan masyarakat?
B: Hubungan yang dilakukan antara sekolah dan masyarakat sangat baik, saat sekolah mengadakan acara pasti mengundang masyarakat dan meminta izin ke RT dan RW.
A: Bagaimana tenaga pengajaran yang dilakukan SMK Pelayaran?
B: SMK Pelayaran lebih mengutamakan kualitas tenaga pendidik. Dan juga mencari tenaga pengajar yang provisional sesuai dengan bidangnya masing-masing dengan kualifikasi ijazah ANT-I, ATT I, ANT II, ATT II, ANT III, ATT III, Sarjana (S1), Pasca SARJANA (S2), TNI dan Polri.
A:Bagaimana yang diterapkan di SMK Pelayaran?
B: Kurikulum yang diterapkan di SMK Pelayaran mengacu kepada K-13, IMO, dan Kurikulum Keahlian.
A: Bagaimana syarat untuk menjadi guru di SMK Pelayaran?
B: Syarat untuk menjadi guru di SMK Pelayaran terbagi menjadi dua produktif dan nonproduktif. Produktif harus memiliki ijazah laut dan memiliki ijazah TOT, sedangkan nonproduktif harus memiliki sertifikat MGMP.


B.     Lampiran Foto

SMK Pelayaran Pancasila Kartasura